by : Indri Ajja
"Ki, tolong saya Ki... saya mau orang di foto ini jadi milik saya. Apapun syaratnya akan saya penuhi, Ki."
Perempuan cantik dengan hidung mancung dan lesung pipit itu berkata pada lelaki di depannya.
Di tangan lelaki itu ada sebuah foto laki-laki berwajah tampan dan menarik. Penampilannya yang parlente menunjukkan bahwa orang tersebut kaya dan berasal dari kalangan atas.
"Hahaha... itu perkara kecil, gampang-gampang! Aku akan membuat dia bertekuk lutut padamu," sahut Ki Buntung dengan pedenya.
Ki Buntung adalah dukun terkenal di kota itu. Apapun bisa dilakukan oleh Ki Buntung. Banyak pejabat-pejabat tinggi yang datang ke tempatnya untuk meminta jimat yang konon kabarnya bisa membuat orang lebih berwibawa dan disegani. Ada juga artis-artis yang meminta jampi-jampi agar selalu kebanjiran job dan lebih terkenal. Tak jarang mereka juga memasang susuk agar nampak lebih cantik atau ganteng.
Tapi ada pula yang datang dari kalangan bawah untuk meminta pesugihan.Yang jelas hampir semua orang di kota itu mengenal Ki Buntung.
Perempuan cantik itu tersenyum lega mendengar jawaban Ki Buntung. Ingatanya kembali ke beberapa minggu yang lalu, saat dia berkenalan dengan sosok lelaki dalam foto itu.
Saat itu sedang ada pagelaran budaya dalam rangka HUT kota
yang ke 211. Banyak pejabat dan juga artis-artis yang diundang pada acara
tersebut. Termasuk perempuan muda yang
bernama Karin. Karin adalah seorang model di kota itu. Paras cantik dan tinggi yang semampai membuat karirnya di dunia modeling semakin bersinar. Pada
acara gelar budaya itulah Karin mengenal sosok tampan dalam foto itu. Dia seorang
pejabat tinggi, usianya sekitar 38 tahun, berwajah ganteng dengan postur tubuh tinggi yang altletis. Meskipun
sudah mendekati 40 tapi wajahnya tak menunjukkan usia yang sebenarnya. Wajah
lelaki itu seperti baru berumur 30an.
Karena itulah banyak wanita yang terpesona dan mengejar-ngejarnya
walaupun tahu bahwa lelaki itu sudah beristri. Begitu juga Karin, perkenalan
pertamanya dengan Romie sang pejabat ganteng begitu membekas di hatinya. Hingga
berbagai macam cara dia lakukan demi mendapatkan Romie, termasuk pergi ke
dukun. Karin sudah putus asa karena Romie sama sekali tidak tergiur oleh
kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Dia kesal, baru kali ini dia ditolak oleh
laki-laki.
***
Siang itu Romie terlihat duduk termangu di kantornya. Tergurat di wajahnya kegelisahan yang dalam. Sudah beberapa hari ini hatinya selalu gelisah.
“Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”
bisiknya. Entah kenapa sudah berhari-hari Romie selalu terbayang wajah Karin.
Wanita yang dikenalnya dalam acara gelar budaya dan akhirnya selalu
mengejarnya. Romie sudah menjelaskan berkali-kali bahwa dia sudah punya anak
dan istri tapi Karin tak peduli dan tak pernah mau peduli.
“Rom, aku sayang ma kamu. Sayaang
banget! Sampai-sampai makan tak enak, tidurpun tak nyenyak gara-gara mikirin kamu.” kata
Karin kala itu.
“Rin, aku sudah punya anak istri, aku nggak mungkin meninggalkan mereka. Aku sangat mencintainya mereka.”
“Aku tak peduli kamu udah punya anak istri, aku rela kok jadi istri keduamu.”
“Ya ampun Karin, jangan berkata seperti itu. Kamu cantik dan menarik, carilah pasangan yang sepadan dan masih single. Kamu seorang model, pasti banyak laki-laki yang mengejarmu.”
“Huh! Kamu bilang aku cantik dan menarik, tapi kamu menolakku," sungut Karin.
"Kan aku udah jelaskan sejelas-jelasnya. Apalagi yang perlu aku jelaskan kepadamu? Udahlah Rin, jangan si-siakan waktumu!"
"Pokoknya aku tak peduli, mau kamu udah beristri kek, mau kamu udah berbuntut kek, aku cuma suka ma kamu. Aku nggak mau sama orang lain. Aku cuma mau
sama kamu, titik!” teriak Karin.
"Liat saja Romie! Kamu pasti jadi milikku". Karin
bertekad dalam hati. Semenjak itu tingkah Karin
makin menjadi-jadi. Dia kerap mendatangi kantor Romie. Dia juga sering SMS atau
telpon saat tengah malam.
Sebenarnya bukan tak ada laki-laki yang mendekati Karin. Ada Doni yang setiap hari mengejar-ngejarnya. Tapi hati Karin terlanjur jatuh cinta pada Romie, karena itu dia selalu menolak Doni dengan berbagai macam alasan.
***
"Pa, Karin itu siapa sih? Tiap malam SMS, tiap malam nelpon. Emang siapa dia? Ada hubungan apa Papa sama dia?"
"Ma, tenang Ma! Papa nggak ada apa-apa sama dia. Dia aja yang selalu ngejar-ngejar Papa."
"Halah! Alasan Papa saja!"
"Bener Ma...kalau nggak percaya Mama boleh ke kantor, tanya tuh temen-temen Papa."
"Apa? Jadi dia sering ke kantor juga? Dengar ya Pa! Mama tak mau perempuan gila telpon-telpon Papa lagi. Apalagi smpai ke kantor nyariin Papa! Ingat itu!"
Istri Romie tak bisa menahan amarahnya melihat begitu seringnya nama Karin muncul di hp suaminya.
***
"Halo sayang, lagi ngapain? Kita makan siang sama-sama yuk! Mau ya sayang! Yaa... yaa!" Dengan suara merdu merayu Karin menelpon Romie.
"Oke, kita ketemu di mana? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan juga sama kamu."
"O, ya? Beneran kita makan siang bersama? Asyiiik!" Karin sangat bersemangat.
Sudah berkali-kali dia mengajak Romie makan siang. tapi lelaki itu selalu menolaknya. Baru kali ini Romie menerima ajakannya.
"Eh, tadi dia bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Jangan-jangan dia mau menerima aku, duh jadi deg-degan." Bahagia seketika terlintas di wajah cantiknya.
"Hai sayang, kamu makin ganteng aja!" binar mata Karin tak bisa menyembunyikan kebahagiaan, saat melihat sang pujaan hati berjalan menuju ke arahnya. Romie hanya diam tak merespon.
Setelah duduk dan memesan makanan Romie berkata, "Rin, tolong ya! Jangan SMS, jangan telpon dan jangan datang-datang lagi ke kantorku!"
"Memangnya kenapa? Bukankah itu hak ku untuk melakukan apapun yang ku mau?"
"Itu memang hak mu, asal tidak menganggu orang lain. Tapi ini, kamu benar-benar sangat menggangguku."
"Hahaha... kamu ato istrimu yang terganggu?"
"Kami berdua terganggu! Aku tak mau keluargaku hancur berantakan gara-gara perempuan macam kamu! Mulai sekarang jangan lagi menggangguku! Aku sudah muak dengan segala tingkahmu!" Romie benar-benar tak bisa menahan diri.
Mata Karin terbeliak, tak menyangka Romie akan berkata sekasar itu.
"Kamu akan menyesal Romie! Kamu akan menyesal karena memperlakukan aku seperti ini. Ingat Romie! Kamu pasti akan menyesaaal!" teriak Karin penuh emosi.
"Aku akan membuat hidupmu menderita Romie! Sangat menderita!" bisik hati Karin.
***
Seminggu setelah kejadian itu Romie jadi sering sakit-sakitan. Nyeri di perutnya seringkali timbul, rasanya seperti ditusuk ribuan paku. Dia sudah pergi ke dokter langganannya, tapi dokter bilang tak ada masalah dengan perutnya. Nyeri di perutnya kian hari kian sering terjadi. Akhirnya istrinya membawanya ke dokter spesialis penyakit dalam. Tapi setelah melakukan serangkain pemeriksaan, lagi-lagi dokter bilang tak ada masalah. Tak ditemukan penyebab nyeri di perutnya.
"Aduuuh Ma... perut Papa sakit lagi Ma! Nyeriii sekali! Tolong Papa Ma!" Sambil memegangi perutnya Romie berteriak kesakitan.
"Pa, sabar Pa, biar Mama 'seka' dengan air hangat ya. Biar sakitnya berkurang."
"Ma, Papa udah nggak tahan lagi Ma! Aduuuh... Sakit! Sakit, Ma! Sakit!"
"Pa, istigfar Pa... Istigfar! Ingat sama gusti Allah."
"Aduuuh Ma, Papa nggak kuat lagi Ma!"
"Pa, Papa... Papa! Jangan tinggalin Mama Pa! Pa... Papaaa!" Istri Romie berteriak menangis melihat suaminya lemah terkulai tak berdaya. Tuhan ternyata telah memanggilnya.
***
Di kamar mewah berukuran 4 X 4 meter, tergolek tubuh seorang perempuan cantik. Dia memegangi perutnya yang kian membesar sambil meringis kesakitan. Ya, perempuan itu adalah Karin. Tubuhnya melemah karena menahan sakit. Perutnya serasa disengat ribuan kalajengking. Tiba-tiba, suurrr! Darah segar mengalir dari mulutnya, matanya terbelalak. Dan akhirnya tubuh itu lunglai. Beberapa jam kemudian tubuh itu terbujur kaku. Tak bernyawa.
***
Sementara di tempat lain, seorang lelaki muda tertawa terbahak-bahak di depan Ki Buntung.
Di tangannya ada foto seorang wanita cantik.
"Hahaha... rasain lu! Dasar wanita tak tahu diuntung. Berani kamu menolak cintaku.Sekarang rasakan pembalasanku Karin!" Doni tertawa terbahak-bahak. Puas dendamnya telah terbalas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar