Penulis adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar memperbaiki diri

Foto saya
Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sedang memperbaiki diri. Dan menulis adalah salah satu caranya.

Kamis, 16 Januari 2014

SMS MEMATIKAN


by: Indri Ajja



Terdengar bunyi sms masuk dari ponselku. Kulirik layar ponsel dan terlihat sederet nomor disana. Menandakan aku tak mengenal si pengirim. Bagai disambar petir saat kubaca isi sms itu. Lemah lunglai raga ini. Air mata menggenang hampir saja jatuh. Kalau saja tak ingat bahwa aku sedang di kantor pasti sudah menganak sungai air mata ini. 



Beberapa bulan yang lalu.

“Ma, mau makan apa Ma? Nanti Papa beliin sekalian pulang,” kata Andra sore itu.
“Mama mau makan nasi goreng, Pa. Papa dimana sekarang? Oke, cepat pulang ya…”
Kututup ponsel dan kulanjutkan pekerjaan membereskan rumah. Karena aku bekerja, tidak setiap hari aku memasak. Apalagi kalau dihitung-hitung pengeluaran untuk memasak lebih besar dibandingkan jika kami makan diluar. Jadi Andra juga tidak keberatan jika aku jarang memasak dan kami lebih sering jajan. Karena kami cuma tinggal berdua. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 20.30 WIB tapi Andra belum juga pulang. Biasanya jam 5 sore atau paling lambat jam 6 dia sudah di rumah. “Pa, lagi di mana nih? Kok belum pulang?” Aku meneleponnya.
“Papa lagi sama klien, Ma. Iya bentar lagi Papa pulang, see you soon."
Kutunggu Andra sambil menonton TV, saking ngantuknya sampai ketiduran di depan TV.
 “Ma… Ma… Mamaa… ini nasi goreng pesanan Mama. Mama makan dulu sana gih, nanti baru tidur lagi di kamar!” Andra membangunkan sambil mengecup keningku. Sekilas kulirik jam dinding menunjukkan pukul 23.30 WIB.


***


Suatu sore kira-kira jam 5, Andra pamit keluar. “Ma, Papa keluar dulu ya… sore ini ada meeting sama klien. Mama mau dibeliin apa buat makan malam?”
“Nggak usah Pa, Mama masih kenyang,” jawabku, “Jangan lama-lama ya Pa, hati-hati di jalan.” Aku mengiringi Andra sampai di depan pintu pagar. Malam itu dia pulang dengan membawa sekantong besar barang belanjaan. Aku terkejut karena Andra nggak pernah sekalipun belanja sendiri. Ada bermacam-macam makanan kecil, ada milo, susu, dan masih banyak lagi.
“Tumben Pa, kok bawa belanjaan banyak banget?”
“Iya Ma, tadi klien Papa yang ngasih."
“Kok ada milo segala, emang klien Papa tahu ya kebiasaan Papa minum milo?” spontan aku bertanya ketika melihat ada sekaleng milo.
“Iya, klien Papa tahu kebiasaan Papa minum milo.”
“Emang klien Papa cowok apa cewek sih Pa?” rasa penasaranku mulai timbul.
Karena barang-barang yang dibawa Andra kebanyakan adalah barang-barang yang biasanya dibeli perempuan.
“Klien Papa cowok Ma…, itu tadi Mamanya klien Papa yang ngasih."
Tadi bilang kliennya yang ngasih, kok sekarang bilang mama kliennya yang ngasih.
“Aneh, tapi ya sudahlah,”  bisik hatiku.
Menurutku agak sedikit aneh kalau ada klien yang tahu kebiasaan suamiku minum milo. Karena Andra minum milo cuma di sore hari sepulang kerja. Kalau ada yang tahu kebiasaan itu selain aku dan keluarga bukankah itu sesuatu yang aneh? Kecuali Andra cerita ke klien kalau tiap sore dia minum milo. Tapi masa iya kebiasaan minum milo saja cerita ke klien. Tak masuk akal kan? Tapi tak ada pertanyaan lain yang keluar dari bibirku. Aku cuma merasa sedikit aneh, tapi tak curiga. Aku sangat mempercayai Andra. Karena dia adalah tipe orang yang nggak pernah macam-macam dan dia juga sangat perhatian padaku.


***



Akhir-akhir ini ada kebiasaan aneh dari Andra. Ponselnya nggak pernah lepas dari tangan. Bahkan ke kamar mandipun ponsel tetap dibawanya. “Ada apa ini?" pikirku. Kadang-kadang kulihat Andra menjauh saat menerima telepon. Aku juga pernah memergoki Andra sedang menelepon di belakang rumah. Begitu melihat aku datang dia menutup telponnya. Saat kutanya menelepon siapa, Andra bilang menelepon mamanya. Aku sedikit curiga, kenapa menelepon mamanya harus lari ke belakang rumah dan menjauh dariku? Aneh, benar-benar aneh. Tapi aku tak pernah mau mengecek ponselnya. Bukan tipeku untuk membuka handphone suami hanya sekedar mau tahu siapa yang ditelepon, siapa yang sudah menelepon atau siapa saja yang sudah berkirim sms.  Apalagi selama ini Andra selalu terbuka. Apa saja yang terjadi selama dia di luar rumah atau siapa saja temannya, dia selalu bercerita padaku.

Hingga suatu hari ada satu sms mengejutkan masuk ke hpku. “Mbak, suamimu punya cewek. Kalo kamu nggak percaya ini nomor telepon cewek itu. Bla..bla..bla..bla…”  Panjang lebar isi sms itu. 
Astaghfirullahaladzim….Yaa Allah Yaa Rabbi. Seketika aku limbung. Badanku gemetar.  Aku ingin menangis tapi sadar masih di kantor. Pasti akan menimbulkan tanda tanya besar pada rekan-rekanku jika tiba-tiba aku menangis. Aku nggak ingin mereka tahu masalah pribadiku. Otakku sama sekali tidak bisa diajak bekerja lagi. Aku sudah nggak bisa konsen.

Hari itu kutunggu Andra pulang, jam 12 malam dia baru pulang. Akhir-akhir ini Andra memang sering sekali pulang larut malam. Aku tak memberitahunya perihal sms yang kuterima. Aku bersikap biasa saja, seolah tak tejadi apa-apa. Aku tak akan bertanya macam-macam padanya sebelum menemukan bukti dari sms itu. Apalagi aku tak mengenal si pengirim. Takut jadi fitnah kalau asal tuduh tanpa bukti yang jelas.

***

"Mbak, boleh tolong bilang ma Andra ada pekerjaan yang mau saya bicarakan dengannya. Saya kliennya, tadi saya telpon hpnya nggak aktif. SMS saya juga nggak dibalas." kukirim sms ke nomor yang tertera di sms yang aku terima kemarin. Yang katanya nomor cewek Andra, suamiku. Aku sengaja berpura-pura jadi klien Andra agar perempuan itu tak curiga.
"Oke, tapi kok smsnya ke saya ya? Emang dari mana dapat nomor saya?”  Perempuan itu membalas smsku.
"Oh, tadi teman yang ngasih. Katanya mbak sering ketemu Andra. Jadi teman saya ngasih nomer ini ke saya."
"Oh iya, saya memang sering ketemu Andra. Dia sering ke rumah saya malahan."
Dug dug…. dug dug.…dug dug.… jantungku berpacu dengan cepat mengetahui suamiku sering ke rumah seorang perempuan tanpa sepengetahuanku.
Kubalas lagi smsnya "Oh, iya ya mbak, emang mbak siapanya Andra ya mbak? Kalo boleh tahu :)" Sengaja kupasang emoticon senyum dipesan itu.
"Saya pacarnya."
Jeddeeeeerrrrr…… aku bagai disambar petir. Duniaku gelap gulita. Hati hancur berkeping-keping, dan merasa tak ada harganya sebagai seorang istri. Suami yang sangat aku percaya tega-teganya menduakan aku. Yaa Allah Yaa Rabbi, beri hamba kekuatan.


***


Saat Andra pulang, kulayani dia seperti biasa. Kubuatkan milo kesukaannya, dan kusiapkan handuk serta bajunya saat dia mau mandi. Lalu kami makan malam seperti biasa. Aku berusaha menahan amarah. Selesai makan malam, kami duduk santai di ruang TV. Kusandarkan kepala di bahu Andra, lalu bertanya padanya, “Pa, kemarin Mama dapat sms loh. Katanya Papa punya cewek. Bener nggak sih, Pa?" kutanya Andra dengan lembut.
“Cewek apa sih Ma? Papa nggak ada cewek ah, Mama ini ada-ada aja deh. Tenang aja Ma, di hati Papa cuma ada Mama seorang,” jawabnya tenang sambil mengusap lembut kepalaku. “Pa, Papa jujur aja dech. Mama cuma ingin Papa jujur sama Mama.” Aku masih pura-pura nggak tahu bahwa Andra punya perempuan lain.
“Nggak ada Mama sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak ah,” sergah Andra tetap menyangkal.
Hingga akhirnya kutunjukkan sms dari perempuan itu. Andra diam seribu bahasa. Sepertinya dia terkejut. Nggak menyangka aku punya bukti perselingkuhannya. Tapi anehnya tetap saja dia menyangkal bahwa dia selingkuh. Aku kehabisan akal. Bukti sudah kusodorkan tapi dia masih tetap menyangkal. Aku tak tahu harus bagaimana lagi agar bisa membuatnya mengaku. Sebenarnya yang kuinginkan hanya pengakuan jujurnya. Karena selama ini dia nggak pernah membohongi aku. Masalah dia ada perempuan lain itu bisa diselesaikan kemudian. Aku ingin dia jujur. Itu saja. Tapi pengakuan itu tak juga keluar dari bibirnya.
Tiba-tiba terdengar nada dering sms masuk di ponsel Andra. Seketika kuraih ponselnya dan kubuka, "Sayaaaang, lagi di mana? Aku kangen niiii... Kita ketemuan di tempat biasa ya sayang :*"
Kuhempaskan ponsel di depan Andra. “Nih, baca smsnya…!!!!! Masih mau bilang Papa nggak selingkuuuuuh?” Amarahku seketika meledak membaca sms itu. Malam itu semua amarah yang terpendam keluar bagai gunung berapi yang meletus.
“Ma, maafin Papa Ma… Papa khilaf Ma…” Akhirnya muncul juga pengakuan dari bibirnya. Dia nggak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya dia mengakui perselingkuhannya.
“Yaa Allah…Yaa Rabbi……,” desahku sambil berurai air mata.
Ternyata inilah jawaban dari keanehan-keanehan suamiku selama ini. Keanehan-keanehan yang tak pernah menjadikanku curiga karena selalu saja kutepis jauh-jauh saat terlintas pikiran-pikiran buruk. Ya Allah, orang yang selama ini aku percaya, bahkan bisa dikatakan 100% aku mempercayainya, ternyata begitu tega. Aku sama sekali tak pernah curiga terhadapnya karena aku selalu khusnudzon-berbaik sangka kepadanya.
“Yaa Allah Yaa Rabbi…. apa salah dan dosaku Yaa Allah, hingga badai melanda rumah tangga kami seperti ini,”  ratapku dalam diam.

Sampai pagi kami seperti patung. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir kami. Dan itu berlangsung selama berhari-hari. Rasanya lidah ini kelu, untuk sekedar menyapa suamiku saja aku nggak mampu. Aku tahu ini dosa, biar bagaimanapun aku tak boleh mendiamkan suamiku selama berhari-hari. Karena yang aku tahu dalam ajaran agamaku batas maksimal marahan adalah 3 hari.Tapi aku benar-benar tak mampu. Bagiku Andra adalah segalanya dan selama ini aku memberinya kepercayaan penuh. Sungguh tak menyangka sama sekali bahwa Andra akan berbuat seperti ini. Ini benar-benar pukulan yang sangat keras sepanjang hidupku. Kulihat Andra begitu gelisah karena diamku. Karena biasanya aku adalah tipe orang yang riang. Melihatku diam selama berhari-hari membuatnya gelisah.
Akhirnya Andra membuka suara, “Ma, maafkan Papa Ma…. Papa tahu Papa salah. Tolonglah Ma….maafkan Papa. Papa benar-benar khilaf.” Aku masih diam membisu dihadapannya.
“Ma, please Ma…kali ini tolong maafkan Papa. Papa janji Papa tak akan berbuat seperti ini lagi. Ma, please dong Ma…jangan diamkan Papa seperti ini.” Andra berlutut sambil memegang jemariku. Terlihat titik bening di sudut matanya. Sepertinya Andra benar-benar menyesal. Karena selama hidup bersamanya baru kali ini kulihat dia menangis. Ya…dia menangis meski tanpa suara dan hanya terlihat setitik air mata di sudut mata sipitnya.
Akhirnya kubuka suara, “Pa, memaafkan itu hal mudah bagi Mama.Tapi melupakan rasa sakit ini …. sulit Pa, suliiiiit sekali. Mama nggak tahu sampai kapan Mama bisa melupakan rasa sakit ini.”
“Nggak apa-apa Ma… yang penting Mama memaafkan Papa. Papa tahu Mama pasti sakit hati sekali dengan Papa. Papa nggak akan memaksa Mama untuk melupakan rasa sakit hati Mama. Papa cuma mau Mama memaafkan kesalahan Papa dan itu sudah sangat cukup buat Papa. Ma, please ya Ma…. maafkan Papa.” Andra mengecup keningku dengan lembut.
Ya, bagiku memaafkan adalah perkara mudah. Aku juga bukan tipe orang pendendam. Biarlah kuanggap semua ini ujian dari Allah untuk membuat aku menjadi lebih kuat dan lebih baik. Lagipula selama 5 tahun hidup bersama Andra baru sekali ini dia melakukan kesalahan besar. Jadi rasanya berat kalau aku harus memutuskan untuk berpisah. Bukankah Allah juga sangat membenci perceraian? Akhirnya kuberi Andra satu kesempatan dengan memaafkannya. Biarlah rasa sakit hati ini menghilang bersama berlalunya waktu.
“Baiklah Pa, Mama mau maafkan Papa.Tapi janji ya, jangan berbuat seperti ini lagi. Kali ini Mama kasih kesempatan untuk Papa tapi awas ya…. kalo berani macam-macam sekali lagi… habislah Papa!” ancamku sambil melotot pada Andra, tapi dibibirku tersungging sebuah senyuman. Andra mengangguk lalu memelukku erat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar