Setelah kemarin berhasil menjual tujuh bungkus kerupuk, hari berikutnya dia membawa enam belas bungkus. Meski sejak sore sudah was was takut nggak habis, tapi alhamdulillah, dagangannya ludes lagi.
Begitu aku sampai di halaman rumah--masih di motor dan belum lagi parkir, dia sudah mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar, hingga menampakkan deretan giginya yang tidak rapi :D
"Buk, krupuknya habis. Tadi ada kawan Wendi yang nggak kebagian lagi. Ibu guru mau beli juga kehabisan." Celotehnya.
"Wah, mantap dong!" Aku menanggapi.
"Besok bawa lagi ya, Buk."
"Krupuknya habis, Nak. Ibu belum beli lagi. Itu kemarin pesan sama Budhe Lis, dan kalo pesannya nggak banyak nggak bisa."
"Kemarin kok bisa cuma satu?"
"Iya, Ibuk pesan satu, tapi kawan kawan ibu banyak yang pesan."
"Jadi, besok nggak jualan, Buk?"
"Ya kalo mau jual krupuk nggak bisa, Nak. Jual tempe kripik atau zebra cake aja, mau nggak?"
"Nggak maulah. Kawan Wendi maunya krupuk."
"Ya udah, nggak papa. Besok nggak usah jualan dulu."
"Buk, krupuknya habis. Tadi ada kawan Wendi yang nggak kebagian lagi. Ibu guru mau beli juga kehabisan." Celotehnya.
"Wah, mantap dong!" Aku menanggapi.
"Besok bawa lagi ya, Buk."
"Krupuknya habis, Nak. Ibu belum beli lagi. Itu kemarin pesan sama Budhe Lis, dan kalo pesannya nggak banyak nggak bisa."
"Kemarin kok bisa cuma satu?"
"Iya, Ibuk pesan satu, tapi kawan kawan ibu banyak yang pesan."
"Jadi, besok nggak jualan, Buk?"
"Ya kalo mau jual krupuk nggak bisa, Nak. Jual tempe kripik atau zebra cake aja, mau nggak?"
"Nggak maulah. Kawan Wendi maunya krupuk."
"Ya udah, nggak papa. Besok nggak usah jualan dulu."
Keesokan harinya, setelah mandi dan memakai seragam, dia bilang, "Buk, Wendi maulah jualan zebra cake."
"Beneeer?" Aku bertanya karena kurang yakin.
"Iya."
"Oke, Wendi mau bawa berapa? Biar Ibuk bungkuskan." Tanyaku seraya mengambil zebra cake yang sudah dipotong dari kulkas. "Bawa dikit dulu aja ya?" Aku menambahkan.
"Iya, mmm... bawa empat saja, Buk."
"Kok empat, genapkan lima ya?"
"Iyalah kalo gitu."
"Beneeer?" Aku bertanya karena kurang yakin.
"Iya."
"Oke, Wendi mau bawa berapa? Biar Ibuk bungkuskan." Tanyaku seraya mengambil zebra cake yang sudah dipotong dari kulkas. "Bawa dikit dulu aja ya?" Aku menambahkan.
"Iya, mmm... bawa empat saja, Buk."
"Kok empat, genapkan lima ya?"
"Iyalah kalo gitu."
Akhirnya pagi itu dia membawa zebra cake di antara buku buku pelajarannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar