Penulis adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar memperbaiki diri

Foto saya
Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sedang memperbaiki diri. Dan menulis adalah salah satu caranya.

Rabu, 18 Februari 2015

KECIL KECIL BISNIS / BISNIS KECIL-KECILAN (1)

Sejak kemarin kemarin Wendi selalu saja sibuk soal jualan.
"Ibuk, Ibuk jualan aja, Buk. Nggak usah kerja kantor."
"Mau jualan apa, Nak?"
"Apa ajalah yang bisa dijual."
Dan aku cuma menanggapi dengan senyuman. Karena jujur, aku belum berani berhenti bekerja lalu fokus di bisnis alias jadi pedagang.

* * *

Semalam* saat aku sedang membuat adonan kue, dia bertanya, " Kok buat kue lagi, Buk?"
"Iya, kue pesanan kawan Ibuk."
Terkadang kalau ada waktu, aku memang menerima pesanan kue, tapi sebatas teman teman dekat hehe.
"Wendi boleh makan?"
"Ya nggak bolehlah. Kan punya orang."
"Ibuk, Ibuk dapat duit nggak?"
"Dapat dong." Dengan tersenyum kujawab pertanyaannya.
"Berarti itu sama dengan jualanlah. Wendi juga mau jualan, Buk. Biar dapat duit."
"Emang Wendi mau jualan apa?"
"Seterah Ibuk, apa aja." Dia suka salah menyebut terserah dengan seterah :)

Anak ini antusias banget mau jualan. Mungkin dia punya bakat bisnis. Begitu pikirku. Akhirnya kutawarkan benda yang tadi kubeli. "Jual kerupuk mau? Tadi Ibuk beli kerupuk atom."
"Mau ... mau!" Dengan girang dia menjawab.

Akhirnya kerupuk itu kubungkus dalam plastik kecil dan kutunjukkan pada anakku.
"Kayak gini ni, kalo Wendi mau jual."
"Jadi dijual berapa, Buk? Seratus ribu?"
"Haha, seratus ribu mana ada yang beli, Nak." Aku terkekeh, "Dijual seribu saja. Ini contohnya. Wendi buat seperti ini." Kusodorkan padanya satu bungkus kerupuk sebagai contoh.

Segera dia duduk di ruang tengah, membawa satu toples kerupuk, kantong plastik kecil dan lilin. Dan mulai membungkus seperti contoh yang kuberikan.
"Buk, Wendi bikin enam ni. Ditambah punya ibu satu jadi tujuh."
"Oke, jadi kalo laku semua dapat duit berapa?" Tanyaku--sekalian belajar berhitung hehe
"Tujuh ribu, kan?"
"Yap, betul! Kalo laku nanti duitnya masukkan ke kotak infak seribu ya, Nak." pesanku.
"Jadi sisa enam ribu buat Wendi?"
"Iya, tapi  masukkan ke celengan. Oke bos?"
"Oke, Buk."

Keesokan paginya, diletaknya kerupuk itu diantara buku buku pelajaran dalam tas.

* * *

Pulang kerja sore harinya, kulihat dia bermain main sepeda bersama kawan-kawannya. Melihat ibunya pulang, dia segera mengayuh sepeda menuju rumah.
"Assalamu'alaikum." Sapanya seraya memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam." Jawabku.
Dan tanpa babibu lagi dia segera menceritakan jualan perdananya. :D
"Buk, Buk, krupuknya habis. Kawan Wendi semua beli. Ada yang nggak kebagian, ada yang beli dua. Buk, kawan Wendi bilang besok bawa lagi, krupuknya enak. Alhamdulillah ya, Buk." Celotehnya riang.

Setelah itu dia berlari menuju kamarnya.
"Ini, Buk uangnya. Sisa sebelas ribu. Tadi Wendi infak seribu di mesjid sekolah. Uang dari dari Ibuk lima ribu, uang krupuk enam ribu."
"Lho, Wendi nggak jajan?"
"Enggak."
"Ngapa nggak jajan, Nak? Ibu kan ngasih uang jajan." Aku iba mendengar dia tak jajan.
"Nggak papalah, Buk. Biar uang Wendi banyak."
"Lain kali kalo mau jajan, jajan saja, Nak! Tapi uangnya jangan dihabiskan. Ya udah, sana uangnya masukin celengan."
"Buk, besok mau bawa krupuk lagi."
"Iya, habis masukin uangnya, bungkus krupuk lagi kayak semalam."

Kali ini dia membuat enam belas bungkus.
"Banyak betul, Nak?" Tanyaku begitu mengetahuinya.
"Biarlah, Buk. Daripada nanti ada yang nggak kebagian." jawabnya. Lalu dia melanjutkan, "tapi kalo nggak habis gimana, Buk?"
Rupanya ada kekhawatiran juga di hatinya.
"Kalo nggak habis ya dibawa pulang. Kita makan sendiri." Jawabku sembari tersenyum.

Aku tak sabar menunggu celotehnya tentang jualan di hari keduanya ini.

Note:
*semalam => kemarin ( sehari sebelum hari ini )
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar