Kira-kira begini yang beliau katakan, "Sedini mungkin tanamkan pada anak untuk dekat dengan Al Qur'an, dan langkah yang paling mudah adalah dengan menghafalnya. Mendekatkan anak-anak dengan Al Qur'an harus menjadi cita-cita orang tua sebelum anak-anak punya cita-cita sendiri."
Perkataan beliau akhirnya menyadarkanku, yang saat itu galau antara menyekolahkan anakku di SD umum atau di SD berbasis islam. Galau, karena takut kalau bersekolah di SD berbasis islam nanti setelah lulus mau melanjutkan ke mana? SD berbasis islam ini adalah lanjutan dari TK/RA tempat anakku belajar. Jujur saja, TK/RA tempat anakku belajar bukan sekolah yang terkenal, bahkan ruang kelasnya cuma emperan rumah pribadi, tapi pelajaran yang diberikan sungguh bagus. Anak-anak diajarkan berdoa, sholat dan menghafal surat-surat pendek di Juz Amma disamping belajar pelajaran umum seperti membaca, menulis dan berhitung.
Seperti halnya TK, SD lanjutan ini juga tidak terkenal. Bahkan melihat gedungnya saja sempat membuatku urung untuk menyekolahkan anakku di sana. Tapi karena perkataan Umi Neny Suswati--teman facebook yang tadi aku sebutkan, membuatku sadar, bahwa pendidikan agama adalah hal yang paling penting dan utama yang harus diajarkan sedini mungkin, sebelum pendidikan yang lain. Salah satu putra Umi Neny sekarang melanjutkan SMA di Turki. Putra beliau mendapat beasiswa ke Turki karena hafidz Qur'an.
Ditambah lagi waktu aku mengantar anak ke sekolah itu untuk tes--semua siswa yang mau bersekolah di situ harus melewati tes--ada orang tua yang mau memindahkan anaknya dari SD umum/negeri ke sekolah itu. Menurut cerita ibu itu, dulu dia juga sama sepertiku, tidak mau menyekolahkan anaknya di situ karena melihat gedungnya. Akhirnya si ibu menyekolahkan anaknya di SD Negeri, tetapi baru satu tahun, si ibu mendapati anaknya mulai berbicara kasar, hafalan surat-surat pendek juga banyak yang lupa. Akhirnya si ibu memindahkan sekolah anaknya.
Semua itu membulatkan tekadku, anakku harus sekolah di situ.
Jangan melihat gedungnya, tapi lihatlah ilmu yang akan didapatkan nantinya seperti halnya waktu TK/RA dulu. Aku tidak ingin anakku bodoh dalam hal agama seperti kami, orang tuanya.
Ditambah lagi waktu aku mengantar anak ke sekolah itu untuk tes--semua siswa yang mau bersekolah di situ harus melewati tes--ada orang tua yang mau memindahkan anaknya dari SD umum/negeri ke sekolah itu. Menurut cerita ibu itu, dulu dia juga sama sepertiku, tidak mau menyekolahkan anaknya di situ karena melihat gedungnya. Akhirnya si ibu menyekolahkan anaknya di SD Negeri, tetapi baru satu tahun, si ibu mendapati anaknya mulai berbicara kasar, hafalan surat-surat pendek juga banyak yang lupa. Akhirnya si ibu memindahkan sekolah anaknya.
Semua itu membulatkan tekadku, anakku harus sekolah di situ.
Jangan melihat gedungnya, tapi lihatlah ilmu yang akan didapatkan nantinya seperti halnya waktu TK/RA dulu. Aku tidak ingin anakku bodoh dalam hal agama seperti kami, orang tuanya.
Ya Allah, semoga ini adalah jalan kebenaran yang Engkau tunjukkan, agar anakku menjadi anak yang sholeh. Apalagi melihat tayangan Tahfidz Indonesia di salah satu stasiun TV, ada anak berumur 5 tahun setengah sudah hafal 29 juz. Subhanallah! Allahu Akbar
Semoga kelak anakku juga bisa jadi penghafal Al Qur'an / hafidz. Aamiin Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Mijibbas sailin
Terima kasih banyak buat Umi Neny Suswati , barokallahu fiik
Semoga kelak anakku juga bisa jadi penghafal Al Qur'an / hafidz. Aamiin Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Mijibbas sailin
Terima kasih banyak buat Umi Neny Suswati , barokallahu fiik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar