Penulis adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar memperbaiki diri

Foto saya
Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sedang memperbaiki diri. Dan menulis adalah salah satu caranya.

Senin, 19 Mei 2014

CINTA, JANGAN KAU PERGI



 

Jarak yang terjauh sesungguhnya bukan terpisahkan oleh dua samudera, pun benua. Jarak yang terjauh adalah terseraknya dua keping hati yang pernah saling menyayangi.

Setiap orang punya cara untuk mencintai, begitu juga aku. Membiarkanmu pergi menggapai asa adalah caraku mencintaimu meski itu berarti akan tercipta jarak di antara kita.

“Cinta, aku mendapat beasiswa ke Amrik!” pekikmu girang sambil berlari ke arahku. Sesaat tubuhku berputar dalam pelukanmu. Bulir-bulir bening menghiasi kedua mata ini. Antara bahagia dan sedih. Bahagia, karena apa yang kamu cita-citakan selama ini benar-benar terwujud. Kesungguhan dan tekadmu untuk mendapatkan beasiswa S2 di Amerika memang patut diacungi jempol. Dan kini mimpi itu telah menjadi nyata. Aku sungguh bahagia. Tapi tak bisa kupungkiri, rasa sedih juga menyelinap ke sudut jiwa ini, menyeruak semakin dalam  dan menyesakkan dada. Betapa tidak? Beasiswa itu juga akan memisahkan kita selama rentang waktu kurang lebih dua tahun. Dan itu bukan waktu yang singkat, apalagi aku sedang mengandung buah cinta kita.

Tahun pertama perpisahan, kita sering bertukar kabar. Kamu bercerita tentang studi, kerja paruh waktu yang kamu jalani dan kadang kala juga tentang teman-temanmu atau tentang musim yang berganti.

 Cinta, musim semi ini indah sekali. Bunga-bunga bermekaran menyajikan rona beraneka warna. Sayang sekali kamu tak di sini, duduk bersamaku mencium aroma bunga. Ah! Aroma itu, mengingatkanku pada wangi tubuhmu. Aku merindumu, Cinta.

Cinta, di sini sedang turun salju. Semua tempat telihat putih dan beku. Sebeku hatiku tanpamu.

Membaca kembali pesan-pesan singkatmu, membuat hati ini diterpa badai kerinduan. Ingin rasanya kutumbuhkan sayap, agar bisa menyusulmu. Cinta, tahukah dirimu? Setiap detik  kurenda sepi, kurajut menit demi menit dalam kesendirian. Melewati hari dan bulan bersama sunyi. Beruntung ada Aurel, celoteh dan tingkahnya kerap membuatku tersenyum, bahkan terpingkal-pingkal hingga harus mengusap bening di sudut mata. Anak kita tumbuh dengan baik, Cinta.

Tak perlu kamu risaukan, saat aku berjuang melahirkan dan membesarkan Aurel yang terlahir prematur. Melewati malam dengan mata sendu memandang bayi merah sebesar botol. Oh Cinta, sungguh aku tak ingin konsentrasimu buyar karena bayi mungil kita. Kuingin studimu lancar dan segera pulang. Aku sudah sangat rindu.

Memasuki pertengahan tahun kedua, kabarmu sudah agak jarang kudengar. Saat kutanya, jawabmu selalu sibuk dan sibuk. Sesibuk itukah dirimu, Cinta? Hingga tak sempat lagi berbagi kisah denganku?  

* * *

“Hole … Hali ini Papa puyang!” teriak Aurel girang.
Ya, hari ini adalah hari kepulanganmu. Kami sungguh tak sabar menantikan pertemuan ini. Akhirnya Aurel akan bertemu denganmu. Papa yang hanya dikenalnya lewat suara.

Kami duduk di ruang tunggu bandara. Sesaat lagi pesawat mendarat. Aku sungguh gelisah, hati berdebar-debar, seperti apakah dirimu kini? Oh Cinta, sungguh kerinduanku tak terbendung lagi.

Pesawat yang kamu tumpangi akhirnya mendarat. Kuperhatikan satu per satu penumpang yang turun, tapi dirimu tak terlihat. Cinta, di manakah kamu? Tiba-tiba muncul sosok tegap yang amat kukenal, tapi siapa yang menggamit mesra lengan kekar itu? Perempuan berkulit pucat dan berambut pirang keemasan berjalan anggun di sampingmu. Dan kulihat tanganmu mesra memeluk pinggang perempuan itu.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar