Jarak yang terjauh sesungguhnya bukan terpisahkan
oleh dua samudera, pun benua. Jarak yang terjauh adalah terseraknya dua keping
hati yang pernah saling menyayangi.
Setiap orang punya cara untuk mencintai, begitu juga
aku. Membiarkanmu pergi menggapai asa adalah caraku mencintaimu meski itu
berarti akan tercipta jarak di antara kita.
“Cinta, aku mendapat beasiswa ke Amrik!” pekikmu
girang sambil berlari ke arahku. Sesaat tubuhku berputar dalam pelukanmu.
Bulir-bulir bening menghiasi kedua mata ini. Antara bahagia dan sedih. Bahagia,
karena apa yang kamu cita-citakan selama ini benar-benar terwujud. Kesungguhan
dan tekadmu untuk mendapatkan beasiswa S2 di Amerika memang patut diacungi
jempol. Dan kini mimpi itu telah menjadi nyata. Aku sungguh bahagia. Tapi tak
bisa kupungkiri, rasa sedih juga menyelinap ke sudut jiwa ini, menyeruak
semakin dalam dan menyesakkan dada.
Betapa tidak? Beasiswa itu juga akan memisahkan kita selama rentang waktu
kurang lebih dua tahun. Dan itu bukan waktu yang singkat, apalagi aku sedang
mengandung buah cinta kita.
Tahun pertama perpisahan, kita sering bertukar
kabar. Kamu bercerita tentang studi, kerja paruh waktu yang kamu jalani dan kadang
kala juga tentang teman-temanmu atau tentang musim yang berganti.
Cinta, musim
semi ini indah sekali. Bunga-bunga bermekaran menyajikan rona beraneka warna.
Sayang sekali kamu tak di sini, duduk bersamaku mencium aroma bunga. Ah! Aroma
itu, mengingatkanku pada wangi tubuhmu. Aku merindumu, Cinta.
Cinta, di sini sedang turun salju. Semua tempat
telihat putih dan beku. Sebeku hatiku tanpamu.
Membaca kembali pesan-pesan singkatmu, membuat hati
ini diterpa badai kerinduan. Ingin rasanya kutumbuhkan sayap, agar bisa
menyusulmu. Cinta, tahukah dirimu? Setiap detik
kurenda sepi, kurajut menit demi menit dalam kesendirian. Melewati hari
dan bulan bersama sunyi. Beruntung ada Aurel, celoteh dan tingkahnya kerap membuatku
tersenyum, bahkan terpingkal-pingkal hingga harus mengusap bening di sudut
mata. Anak kita tumbuh dengan baik, Cinta.
Tak perlu kamu risaukan, saat aku berjuang
melahirkan dan membesarkan Aurel yang terlahir prematur. Melewati malam dengan
mata sendu memandang bayi merah sebesar botol. Oh Cinta, sungguh aku tak ingin
konsentrasimu buyar karena bayi mungil kita. Kuingin studimu lancar dan segera
pulang. Aku sudah sangat rindu.
Memasuki pertengahan tahun kedua, kabarmu sudah agak
jarang kudengar. Saat kutanya, jawabmu selalu sibuk dan sibuk. Sesibuk itukah
dirimu, Cinta? Hingga tak sempat lagi berbagi kisah denganku?
* * *
“Hole … Hali ini Papa puyang!” teriak Aurel girang.
Ya, hari ini adalah hari kepulanganmu. Kami sungguh
tak sabar menantikan pertemuan ini. Akhirnya Aurel akan bertemu denganmu. Papa
yang hanya dikenalnya lewat suara.
Kami duduk di ruang tunggu bandara. Sesaat lagi
pesawat mendarat. Aku sungguh gelisah, hati berdebar-debar, seperti apakah
dirimu kini? Oh Cinta, sungguh kerinduanku tak terbendung lagi.
Pesawat yang kamu tumpangi akhirnya mendarat.
Kuperhatikan satu per satu penumpang yang turun, tapi dirimu tak terlihat.
Cinta, di manakah kamu? Tiba-tiba muncul sosok tegap yang amat kukenal, tapi
siapa yang menggamit mesra lengan kekar itu? Perempuan berkulit pucat dan
berambut pirang keemasan berjalan anggun di sampingmu. Dan kulihat tanganmu
mesra memeluk pinggang perempuan itu.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar