Penulis adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar memperbaiki diri

Foto saya
Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sedang memperbaiki diri. Dan menulis adalah salah satu caranya.

Sabtu, 29 Maret 2014

TUA RENTA TAK BERGUNA?




Perempuan tua itu tak bisa melakukan apa-apa lagi. Sehari-hari cuma bisa berbaring di kasur. Makan-minum harus disuapi. Buang air saja harus memakai pispot, apalagi membersihkannya sendiri, jelas ia tak bisa.

"Ning! Ning! Emak haus Ning, tolong ambilkan air untuk Emak!"

Nining yang sedang menonton TV bangkit sambil nyerocos, "Mak, airnya kan sudah di sebelah Emak, ambil sendiri ngapa? Menyusahkan saja!"
Ia menyambar gelas berisi air putih di atas meja sebelah tempat tidur. "Nih, cepat minum!"
Dengan kasar disodorkannya bibir gelas itu ke mulut Emak. Perlahan perempuan tua itu meminumnya.
"Ma--makasih Ning." katanya terbata, anaknya itu hanya membisu kemudian berlalu.
 
 ----- # ----

Emak merasakan sekujur badannya gatal, tapi ia tak mampu menggaruk. Ia baru teringat sudah tiga hari ini Nining tak mengelap badannya. Dulu waktu masih bisa berjalan, meski terhuyung-huyung ia bisa mandi sendiri. Tapi semenjak terpeleset di kamar mandi, Emak takut, apalagi saat memegang gayung tangannya juga gemetar, membuat air muncrat ke mana-mana. Dan itu semakin membuat anaknya marah.

Sudah tiga bulan ini Emak tak mampu berjalan lagi. Cedera kaki waktu terpeselet di kamar mandi membuatnya kesulitan bergerak. Ditambah lagi penyakit tua membuat dirinya kembali seperti bayi. Akhirnya perempuan itu cuma bisa terbaring di kasur. Dan semenjak itu Nining cuma mengelap badannya dengan kain yang dibasahi karena dia tak kuat menggendong ke kamar mandi.

"Ning! Ning!" panggil Emak
 "Apa sih Mak? Tak liat aku lagi sibuk masak? Bentar lagi Mas Gino mau berangkat kerja dan sarapan belum lagi siap!"
"Badan Emak gatal-gatal Ning. Tolong dilap, Emak nggak tahan, rasanya lengket sekali."
"Halah Emak nih! Semua-semua tak bisa. Dasar tua renta tak berguna! Aku lagi masak, nanti saja ngelapnya." Sungut Ning sambil berlalu menuju dapur.

----- # -----

"Mas Gino, aku tak tahan lagi! Semua-semua harus aku yang ngurusin. Mana ngurus kerjaan rumah yang tak ada habisnya, Si Rio yang suka rewel ditambah lagi Si Emak yang cuma bisa tiduran. Aku capek Mas!"
"Sabar Ning, itu kan memang tugasnya istri, ngurusin rumah tangga, lagi pula Emak itu kan yang  nglahirin dan ngurusin kamu dari kecil. Sudah sewajarnya kalo sekarang gantian kamu yang ngurus. Emak kan sudah tua."
"Tapi aku capek Mas! Dari melek mata sampai malam ngurusin dia melulu. Makan-minum harus nyuapin, buang air harus mbersihin. Capek.. capek... capeeek! Mas Gino sih tak di rumah! Jadi tak merasakan apa yang aku rasa."
Percakapan itu berakhir dengan sungutan dan omelan Ning. Suaminya hanya bisa geleng-geleng kepala. Setelah semua nasehat yang diberikan untuk istrinya tak ada satu pun yang digubris.

----- # -----

 "Huh, bau apa ni?" Ibu muda beranak satu itu mencium bau busuk yang menyengat saat berada di ruang tengah. Ia mengendus-endus mencari sumber bau. Diendusnya Rio. Lalu membuka celana anaknya kalau-kalau kencing atau buang air besar, tetapi nihil. Celana Rio bersih. Dia mulai mengendus lagi. Sampai di depan pintu kamar emaknya, bau itu kian menyengat. Pintu itu memang menghadap  ke ruang tengah. Nining memasukinya. Seketika dia menutup hidung.

"Mak! Emak buang air ya!?"
"Maaf Ning, tadi Emak mau manggil kamu, tapi sudah nggak keburu. Tau-tau udah keluar."
"Emaak! Kenapa sih suka nyusahin aku, kalo mau buang air tu bilang. Kalo kayak gini kan susah bersihin. Dasar ni nenek tua!"
"Maaf Ning, tadi perut Emak mules sekali, Emak udah berusaha nahan tapi ternyata nggak bisa."
"Halah, alasan saja. Sudah tua, nyusahin, banyak pula alasan!"
Sambil menggerutu Ning membersihkan kotoran di badan emaknya.
Melihat anaknya begitu repot mengurus dirinya, sebenarnya Emak  kasihan. Tapi apa daya ia tak mampu berbuat apa-apa.

----- # -----

Sudah seharian Rio tak mau turun dari gendongan ibunya. Badan bocah berusia 2 tahun itu panas, dari hidungnya terus-menerus keluar cairan bening. Sepertinya dia pilek, dan cairan bening yang keluar itu membuat kepalanya pening. Mungkin karena itulah seharian Rio merengek. Nining sudah memberi obat yang biasa dijual di warung, tapi panasnya belum juga turun. Anak semata wayangnya itu tetap saja rewel. Dan emaknya, ahh! Kalo sudah ingat Emak, mendadak kepala Nining nyut-nyutan, orang tua itu selalu saja membuat kepalanya serasa mau pecah. Sudah tak terhitung lagi berapa kali dia harus menaruh pispot di bawah tubuh emaknya hari ini. Bolak-balik ke kamar mandi membersihkan kotoran dengan Rio yang tak mau turun dari gendongan. Huh! Semua itu membuatnya sangat letih. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi. Tapi mau gimana? Dia anak Emak satu-satunya. Siapa lagi yang akan mengurus kalau bukan dia. Pernah terlintas di benak Nining, seandainya Emak tak ada, tentu dia tak akan serepot ini. Ah!

"Ibu harus di bawa ke rumah sakit Mbak," kata dokter puskesmas yang memeriksa emaknya, "Ibu anda mengalami dehidrasi dan harus segera diinfus." Terngiang kembali ucapan dokter di telinganya.
"Darimana aku mendapatkan uang untuk membawa Emak ke rumah sakit?" gumam Nining.
Gaji Mas Gino sebagai pekerja bangunan hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Sakit kepala Nining memikirkan. Tiba-tiba terlintas satu ide di kepalanya.

----- # -----

Sesaat setelah suaminya berangkat kerja, Nining menitipkan Rio pada tetangga sebelah rumah, lalu berjalan keluar memanggil angkot. Dia bilang pada sopir angkot bahwa ia mau membawa emaknya ke rumah sakit, sopir angkot itu mengangguk setuju.
Dibantu sopir, Nining mengangkat tubuh emaknya masuk ke dalam angkot.
"Emak mau dibawa kemana Ning?" tanya emaknya lirih
"Ke rumah sakit Mak, kan kata Bu Dokter Emak harus dirawat." kata Nining datar
Ditengah perjalanan menuju rumah sakit, tiba-tiba perempuan muda itu menyuruh sopir angkot berhenti.
"Stop Pak! Berhenti di sini saja!"
"Lho Mbak, kan belum sampai rumah sakit?" tanya sopir setengah bingung.
"Saya ada perlu sebentar, Bapak bantu turunkan Emak saya lalu silahkan pergi!"
Sopir angkot itu hanya menurut.

Di tepi jalan itu yang terlihat hanyalah ilalang yang menjulang, meliuk-liuk diterpa sang bayu.
Dengan sedikit diseret karena keberatan, dipapahnya wanita tua itu masuk menembus ilalang. Setelah berjalan kira-kira 3 meter, diletaknya tubuh ringkih itu di atas koran yang tadi sempat disambar sebelum pergi.
Dengan pandangan bingung Emak bertanya, "Ning, tempat apa ini? Katamu mau ke rumah sakit?"
"Mak, Emak tau tak? Ke rumah sakit itu perlu duit Mak. Duit..!" Setengah berteriak perempuan itu menjawab. Lalu melanjutkan ucapannya, "ini rumah sakit buat Emak, aku capek setiap hari mengurus Emak!" Serunya seraya berjalan menjauh.
"Ning, ja--jangan tinggalkan Emak Ning!" terbata-bata Emak memanggil anaknya.
Sementara perempuan muda itu terus saja berjalan menjauh, tak menggubris rintihan emaknya.
Entah setan apa yang telah merasuki hatinya, hingga tega meninggalkan orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu di tengah semak belukar.

---- # -----

"Ah, lega sekali rasanya. Hari ini tak ada yang memanggil-manggil aku lagi." Senyum tersungging di bibirnya yang tipis.  Hari berlalu semenjak ia meninggalkan emaknya di padang ilalang. Suaminya sempat bertanya kemana Emak pergi, dengan datar dijawabnya kalo Emak di rumah sakit. Perlu diinfus karena kurang cairan. Ia tinggalkan Emak karena sudah ada perawat, lagian ia juga harus mengurus Rio. Ia tahu betul suaminya tak akan sempat menjenguk Emak di rumah sakit, karena sepulang dari kerja bangunan dia harus pergi jaga malam. Satpam yang bertugas jaga malam di tempat kerja suaminya sedang cuti. Dan bosnya menyuruh Gino menggantikan untuk sementara. "Brr... Dinginnya malam ini," Nining merasakan dingin udara yang menusuk tulang. Dipeluknya anak lelaki satu-satunya yang tengah terlelap. Lalu beranjak mengambil selimut tebal di lemari, dengan hati-hati ia menyelimuti Rio. Tiba-tiba ingatannya terbang ke masa kecil, ia ingat bagaimana dulu Emak selalu memeluk dan menyelimuti dirinya saat kedinginan. Lalu membuatkan teh hangat saat melihat tubuh gadis kecilnya masih menggigil. Ah, rasa bersalah tiba-tiba mengaduk-aduk hatinya. Kenapa ia tega meninggalkan Emak sendirian di tengah ilalang? Bagaimana keadaannya? Pasti sekarang sangat kedinginan. Hanya karena jenuh dan capek serta himpitan ekonomi yang kian memusingkan kepala, kenapa ia hilang akal? Kenapa ia tega membuang Emak. Kenapa ia bisa begitu saja melupakan jerih payah perempuan yang melahirkannya? Padahal Emak tak pernah sedikitpun merasa lelah saat mengasuh dan membesarkannya.
"Mak, maafkan anakmu yang durhaka ini Mak...!" ratapnya pilu. Malam itu mata Nining tak mampu terpejam sedikitpun.

Pagi-pagi sekali, Nining pergi ke tempat di mana ia meninggalkan emaknya. Sesampainya di sana, ia terkejut setengah mati. Ia tak menjumpai emaknya.
"Mak! Emak! di mana kamu Mak?" teriaknya sambil berjalan berkeliling di seputar tempat itu. Air matanya tak berhenti mengalir. "Maak! Maafkan aku. Ampuni aku Mak...!"
Lelah Nining mengitari tempat itu, tapi tanda-tanda keberadaan emaknya tak terlihat sama sekali. Ya Tuhan, di mana emakku? Emaakk...! 

----- # -----

Di sebuah panti jompo terlihat seorang perempuan tua sedang merenung.Terbaring memandang langit-langit. Tergambar kesedihan yang amat jelas dari matanya yang sayu. "Kenapa anakku tega meninggalkan aku?" Tak henti-henti perempuan itu menggumam. Dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat anak satu-satunya, yang amat ia sayangi meninggalkannya di semak belukar. Beruntung, sore itu ada dua orang yang lewat, hendak memancing di sungai dekat ilalang. Mereka mendengar rintihannya. Mereka bertanya, kenapa dia bisa berada di situ dan siapa yang membawanya, tapi perempuan tua itu hanya diam seribu bahasa. Karena tak mendapatkan jawaban dari perempuan tua itu, akhirnya mereka membawanya ke panti jompo. Perempuan itu tak ingin terjadi apa-apa dengan Nining, anak kesayangannya. Juga tak mau lagi merepotkannya. Biarlah semua itu menjadi rahasia. Dan biarlah ia simpan sendiri kesedihannya.

TAMAT












 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar