Praangg! Terdengar suara piring pecah. Aku menggigil ketakutan.
"AGUS! Opo meneh kuwi sing pecah?!"
Belum sempat menjawab teriakan Emak, tiba-tiba, "plak!" Tamparan Emak mendarat di pipiku.
"Udah berapa kali Emak bilang! Cuci piring hati-hati! Habis semua barang Emak mbok pecahne! Iso kowe ngganti?!"
Belum sempat menjawab teriakan Emak, tiba-tiba, "plak!" Tamparan Emak mendarat di pipiku.
"Udah berapa kali Emak bilang! Cuci piring hati-hati! Habis semua barang Emak mbok pecahne! Iso kowe ngganti?!"
Emak terus mengomel tanpa peduli panas dan perihnya pipiku. Tapi tidak! Aku tidak boleh menangis! Sakit karena tamparan, bagiku tidak seberapa. Karena sudah sering Emak menampar, mencubit, memukul, bahkan menggigitku. Entah mengapa Emak sering memperlakukanku begitu. Seperti pagi itu, setelah menimba air dan memenuhi bak mandi aku mencuci piring. Itu adalah tugas yang harus dikerjakan sebelum berangkat ke sekolah. Aku bersekolah SD Negeri setempat dan duduk di kelas 3. Karena licin, piring yang kucuci jatuh dan pecah, yang akhirnya membuat Emak marah. Emak memang selalu memarahiku, tak perduli besar atau kecil salah yang kubuat.
* * *
Hari itu aku disuruh Emak menjaga adik. Adikku yang baru 3 tahun itu berlari-lari ke jalanan, karena takut adik jatuh ataupun terserempet kendaraan, akupun mengejarnya. "Bruk!" Apa yang aku takutkan terjadi. Adik terjatuh. Keningnya lecet dan berdarah kena aspal berbatu. Dari dalam rumah Emak lari tergopoh-gopoh mendengar tangisan adik. Emak lalu menggendong dan mengobati lukanya. Sementara aku duduk gemetar di sudut ruangan, sangat takut kalau-kalau Emak akan memukulku. Benar saja, setelah selesai mengobati luka adik, Emak menganbil gantungan baju. "Wut! Wut! Wut!" Bertubi-tubi Emak memukul punggung, kaki dan tanganku. Sambil mengomel panjang lebar. Emak bilang aku tak bisa menjaga adik dengan baik. Punggung, kaki dan tangan terasa perih. Aku memeluk lutut sambil menangis. Tiba-tiba aku teringat Simbah di Jawa yang sangat menyayangi aku.
* * *
"Gus, makan dulu!" Teriak Mbah Putri. Waktu itu aku sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah. Mbah Putri memang selalu menyiapkan sarapan untukku. Di rumah Simbah aku tidak pernah mencuci piring, menimba air apalagi mencuci baju. Mbah Putri dan Mbah Kakung yang mengerjakan semuanya.
"Mbah, ngapa sih Emak tak mengajakku ke kota?" Tanyaku suatu ketika.
"Mak mu kan ke kota nyari duit, kalo ngajak kamu yo ra iso kerjo, ra iso golek duit."
"Tapi aku kangen Emak, Mbah."
"Wis, kono ndang turu! Sesuk sekolah."
Akhirnya kurebahkan diri menuruti perintah Simbah.
Menurut cerita Mbah Putri, Emak dan Bapak merantau ke kota dan menitipkan aku saat umur 2 tahun. Tapi sampai sekarang aku sudah kelas 2 SD, orang tuaku tak pernah pulang. Aku sangat merindukan mereka. Aku iri sama teman-teman yang setiap hari bisa bersama emak dan bapaknya. Mendapat kasih sayang kedua orang tuanya. Memang sih, Simbah sangat menyayangi aku, tapi aku tetap ingin bersama kedua orang tuaku.
* * *
"Le, besok bapakmu pulang. Tadi bapakmu nelpon katanya mau membawamu ke kota."
"Tenan Mbah?" Mataku seketika berbinar. Bahagia!
Akhirnya, setelah menunggu bertahun-tahun aku akan bertemu Bapak dan Emak. Dan tinggal bersama mereka! Ah, rasanya seperti mimpi. Seperti apa ya wajah mereka? Terbayang wajah Bapak dan Emak tersenyum ramah, membelai dan menciumi aku. Menghujani kasih sayang karena begitu lama meninggalkan aku. Mata ini tak mau terpejam sedikitpun. Tak sabar menunggu esok hari.
* * *
Dan di sinilah sekarang aku berada. Tinggal di rumah bersama orang tua juga seorang adik yang berumur 3 tahun. Ternyata di kota, Bapak bekerja jadi kuli bangunan. Emak membantu Bapak mencari uang dengan membuat keripik singkong dan dititipkan di warung-warung sekitar rumah. Seminggu pertama di rumah, mereka begitu perhatian. Aku merasa bahagia sekali.
Tapi setelah itu, bahagiaku menghilang. Emak ternyata seorang pemarah. Dan setiap kali marah, akulah yang menjadi sasarannya. Sering kulihat Emak dan Bapak bertengkar, entah karena masalah apa. Dan kalau sudah begitu, salah sedikit saja Emak tak segan-segan mencubit atau memukulku. Cubitan dan pukulan Emak sering kali membuat kulitku membiru. Kata orang sih lebam.
Bapak? Sama saja! Bapak juga sering memukul. Apalagi kalau baru pulang kerja trus Emak mengadu macam-macam. Jadilah aku pelampiasan mereka.
Memang sih, aku juga salah. Aku pernah mengambil uang jajan seorang teman. Karena saat itu aku kelaparan, Emak memang jarang menyediakan sarapan. Uang saku yang diberikan juga cuma sedikit. Jauh beda dengan teman-temanku yang lain. Sering juga usai sekolah aku cuma pulang, berganti baju lalu main sampai
hampir maghrib. Lalu Emak akan berkeliling kampung mencari. Sesampainya di rumah Emak akan langsung menghajarku. Kadang sadar perbuatanku salah, tapi itu adalah caraku menarik perhatian mereka. Aku ingin diperhatikan!
* * *
Aku masih memeluk lutut di sudut ruangan. Menahan nyeri di sekujur tubuh karena bekas pukulan. Seperti biasa, emak tak peduli dengan sakit yang kurasakan. Emak sibuk meneliti luka adik. Jujur, aku iri dengan adikku. Dia bisa dengan mudah mendapatkan barang ataupun mainan yang disukainya. Sedangkan aku? Rasanya hanya bisa bermimpi. Tapi bukan barang atau mainan yang membuat hatiku pedih, tetapi kasih sayang Emak. Sering kulihat Emak saat memandang adik, di matanya terpancar kasih sayang. Tapi mengapa saat memandangku, yang kutemukan cuma sorot kebencian? Tak sayangkah Emak padaku? Apa salahku? Kenapa Emak lebih sayang pada adik? Banyak pertanyaan yang tak terjawab memenuhi pikiranku.
Sayup-sayup terdengar dari pengeras suara di masjid. "Anak itu adalah amanah. Yang harus dijaga sebaik-baiknya, diberi pendidikan dan kasih sayang. Karena anak bukan milik kita, anak adalah titipan Allah kepada orang tua. Jadi kelak Allah akan mempertanyakan kepada kita, para orang tua, bagaimana kita menjaga amanah tersebut." Pak ustadz mengakhiri ceramahnya. Entahlah, Emak mendengar atau tidak ceramah Pak Ustadz itu.
---------- # # # ----------
Opo meneh kuwi sing pecah = Apalagi itu yang pecah
Mbok pecahne = Kamu pecahkan
Iso kowe ngganti? = Bisa kami menggantinya?
Mbah Putri = Nenek
Mbok pecahne = Kamu pecahkan
Iso kowe ngganti? = Bisa kami menggantinya?
Mbah Putri = Nenek
Mbah Kakung = Kakek
Simbah = Sebutan untuk kakek atau nenek ( bisa dua-duanya )
Mbah = Singkatan dari Simbah
Yo ra iso kerjo, ra iso golek duit = Ya nggak bisa kerja, nggak bisa cari uang
Wis, kono ndang turu! Sesuk sekolah = Dah, sana tidur! Besok sekolah
Le = Sebutan untuk anak laki-laki
Tenan = Betul / Benar / Tidak main-main

nice story.. tp kok ceritanya ngambang ya, belum ada endingnya. Apa ini cerbung/ cerpen jd tanda tanya.
BalasHapusMampir juga di ceritaku ya. Salam Kenal :)
hehehe makasih mbak Vea sudah mampir @Vea Lovqy
Hapusmasih ngambang ya mbak? Sebenarnya ini cerpen mbak, mo ngeditnya susah banget. Ntr kupikikan lagi mo diedit seperti apa. Ini sudah 2 kali edit tapi masih belom pas juga. Ada masukan mbak?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus